26 Desember 2009

Isteri CEREWET.., Sabar ya...

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.

Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan
hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan, lebih dulu suami yang maju ke depan mengaku, akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

WallahuAlam.

KY Kaji Putusan Bermasalah

KY Kaji Putusan Bermasalah
Mayoritas dari 1.400 Vonis Hakim Tidak Penuhi Rasa Keadilan

JAKARTA, Komisi Yudisial (KY) kini mengkaji sekitar 1.400 pu tusan hakim di pengadilan tingkat pertama dan banding di seluruh Indonesia. Di antara jumlah itu, 968 putusan (sekitar 69 persen) di laporkan masyarakat karena di duga tidak memenuhi rasa keadilan. Selain itu, KY tengah mengka ji putusan kontroversial yang di jatuhkan 62 hakim di sejumlah pengadilan di tanah air.

''Belum tentu 62 hakim itu meme nuhi kriteria untuk diperiksa. Te tapi, putusan mereka menjadi kontroversi di masyarakat,'' ujar Ke tua KY Busyro Muqoddas ke ma rin (26/12).

Salah satu yang tengah dikaji KY adalah putusan hakim Pengadilan Negeri (PN) Batang, Jawa Te ngah, pekan lalu. Yakni, mene rima permohonan ganti jenis kelamin Agus Wardoyo menjadi Dea Wardini.

Pekan depan, KY akan mengadakan rapat pleno untuk menindaklanjuti laporan dari masyarakat itu. KY bakal meneliti apakah terdapat penyimpangan kode etik dan pedoman perilaku hakim dalam pengambilan putusan yang dikomplain masyarakat. ''Kalau ada penyimpangan, modusnya bagaimana,'' kata Busyro.

Dia mengakui, masih banyak hakim yang bermain-main dengan teknis yudisial. Meski demikian, lanjut Busyro, dari sisi persentase, masih lebih banyak hakim yang baik daripada yang tidak baik. Kehormatan hakim yang baik itu harus dijaga dengan cara menegakkan kode etik dan pedoman perilaku hakim. ''Secara sederhana, 62 hakim di antara total 6.900 hakim itu hanya berapa persen. Jadi, masih banyak hakim yang baik,'' tuturnya.

Menurut Busyro, penegakan kode etik dan pedoman perilaku hakim pada era kepemimpinan Ketua Mahkamah Agung (MA) Harifin Andi Tumpa jauh lebih baik bila dibandingkankan dengan saat MA dipimpin Bagir Manan. Selama kepemimpinan Bagir Manan, KY mengajukan 28 hakim untuk diperiksa karena dugaan pelanggaran kode etik, namun tidak direspons.

Sejak MA dipimpin Harifin, empat hakim disanksi melalui proses Majelis Kehormatan Hakim (MKH). Termasuk wakil ketua Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, Kalimantan Selatan. ''Mayoritas laporan tidak ditindaklanjuti dengan alasan sudah masuk teknis yudisial,'' katanya.